cara membuat majalah

Jurus 6 M

Di dalam membuat media, banyak hal yang harus dipersiapkan mulai dari manusianya sampai alat untuk mencetaknya. Nah, dalam membuat media, agar terbit seperti yang diharapkan,perlu adanya 6 M, yaitu:

1. Man

Manusia sangat berperan disini. Kalau media tidak ada yang membuat, lalu siapa yang membuat? Hantu? Nah, perlu ada beberapa orang yang terlibat di sini. Mulai dari yang menyusun naskah sampai mendistribusikan kepada pembaca. Nah, itulah fungsi kerjasama. Kerjasama itu bisa terjalin dengan baik jika ada pengorganisasian yang jelas. Pengorganisasian itu alangkah lebih baiknya melibatkan sekolah dan siswa. Pihak sekolah menunjuk adanya pembina dan siswa yang mengorganisir terbitnya media.

Media sekolah lebih baik memakai susunan keorganiosasian sesuai kebutuhan. Jika membuat media berupa mading, susunan redaksinya cukup pimpinan redaksi, redaksi, keuangan dan produksi (menggambar).

2. Money

Uang memang tak penting. Tanpi tanpa uang kita tak bisa apa-apa. Benar kan? Dalam pembuatan media, aspek uang perlu diperhitungkan. Jika dana terbatas, lebih baik membuat mading atau bulletin dahulu. Kerjasama dengan pihak sekolah sangat diperlukan untuk modal pembuatan media.

Masalah biaya perlu dipertimbangkan lebih awal, mengingat media sekolah bukanlah media komersial yang dapat diperjualbelikan. Jadi besar sekali kemungkinan media sekolah diterbitkan dengan biaya dari siswa sekolah sendiri. Bila jumlah biaya penerbitan terlalu besar, tentu membebani orangtua maupun siswa. Lain halnya jika media sekolah ditanggung sekolah atau ada lembaga penyandang dana. Pilihan jenis media juga harus diperhitungkan disini.

3. Material

Dalam media, rubrik-rubrik diperlukan untuk membagi apa saja isi yang dimuat di media, isi diharapakan sesuai kode etik yang ada dan informasi yang dimuat dapat menambah pengetahuan siswa.

4. Machine

Ada tidaknya peralatan yang membantu siswa melaksanakan proses produksi juga berpengaruh terhadap pemilihan jenis media. Jika disekolah hanya tersedia komputer dan itupun dalam jumlah terbatas. Mungkin lebih baik dipilih format mading.

5. Metode

Nah, jika kita membuat media, pastinya diperlukan metode untuk membuatnya. Teknik produksi yang dipilih tidak hanya mempertimbangkan biaya. Kualitas yang diinginkan serta teknik produksi yang dikenali siswa sekolah bisa menjadi pertimbangan.

6. Market

Ketika akan membuat media, sebelumnya kita perlu tahu untuk siapa sih media tersebut? Untuk bapak ibu guru? atau untuk siswa sendiri? Kalau siswa untuk kelas berapa? Apa kelas X, XI,atau XII? Apa malah semuanya? Nah, disini kita perlu membuat spesialisasi agar kita tahu apa yang disukai mereka. Jika kita menulis tentang peternakan ayam, mana mungkin siswa membacanya, mungkin cuma satu dua yang membaca. Kecuali jika di media ditulis tentang pergantian kepala sekolah baru, pasti siswa akan membacanya.

Dengan kita tahu siapa yang akan membaca, gaya bahasa dengan mudah bisa ditentukan. Bila yang membaca adalah bapak atau ibu guru, mana mungkin kita menggunakan bahasa gaul yang membuat bapak ibu guru pusing tujuh keliling untuk mengartikannya. Nah, kalau tulisannya banyak memakai istilah asing seperti plasmolisis, paradigma maupun istilah lainnya, pasti juga membuat pusing jika dibaca siswa SMP.

Mengenal Opini dan Kolom

Dalam sebuah surat kabar dikenal ada: berita, feature, tajuk, pojok, kolom, surat pembaca, iklan. Biasanya ada pula fiksi, karikatur, foto-foto. Berita dan feature adalah fakta, pojok dan tajuk adalah opini dari pengasuh koran, kolom dan surat pembaca adalah opini dari luar, iklan adalah sumber duit untuk penerbitan, sedang fiksi adalah karangan yang fiktif, bisa sebagai cerita bersambung, cerpen, dan sebagainya.

Dalam penerbitan majalah dan tabloid, keadaannya hampir sama. Mungkin majalah dan tabloid tidak ada fiksinya, kecuali majalah dan tabloid yang sifatnya hiburan, bukan majalah atau tabloid berita.

Di penerbitan majalah dan tabloid, juga jarang ada tajuk rencana, yang isinya adalah opini yang mengatasnamakan penerbitan itu. Di beberapa penerbitan, pemimpin redaksi atau redaktur senior menulis opini khusus dengan byline. Misalnya, di Forum dulu ada Catatan Hukum. Itu tak bisa digolongkan opini, karena belum tentu mewakili isi majalah tersebut. Itu lebih tepat disebut kolom. Nah, di majalah TEMPO sekarang ini ada opini. Itu betul-betul opini yang sebenarnya, karena dibuat untuk mewakili kepentingan penerbitan. Dan tidak ada byline-nya (penulisnya).

Kriteria:
Jadi apa itu opini dan kolom, sudah jelas. Opini adalah tulisan yang merupakan pendapat seseorang atau lembaga. Kolom dan surat pembaca termasuk opini. Pokoknya segala yang bukan berita disebut opini.

Dan opini ada dua: mewakili lembaga (disebut tajuk, pojok, opini — dalam pengertian rubrik), dan mewakili perorangan (disebut kolom). Kalau dibagi lagi, kolom bisa ditulis oleh orang luar maupun orang dalam, tajuk dan sebagainya itu adalah opini yang ditulis oleh orang dalam.

Apa yang ditulis:
>Baik opini maupun kolom, kedua-duanya adalah menyoroti sebuah berita aktual dengan memberi pendapat-pendapat, baik saran, solusi, kritik dan sebagainya. Kalau berita tentu tak bisa dicampuri dengan opini. Berita yang dicampur dengan opini menjadi rancu, dan mengaburkan nilai berita itu sendiri. Berita pun menjadi tidak obyektif lagi.

Karena itu sebuah tulisan yang ingin melengkapi berita itu dengan pendapat seseorang, dipesan kolom oleh sebuah penerbitan. Itu yang menyebabkan penulis kolom adalah tokoh-tokoh yang sudah dikenal dalam bidangnya. Apalagi untuk majalah. Kalau Anda belum terkenal tak bisa menulis kolom. Di koran-koran, karena terbitnya setiap hari dan membutuhkan banyak tulisan, masih bisa menerima tulisan kolom dari luar yang datang begitu saja tanpa dipesan. Tapi di majalah tidak, tulisan dipesan dan hanya orang tertentu saja yang bisa menulis.

Bagaimana menulis:
>Baik kolom maupun opini ditulis dengan cara yang sangat populer dan dibatasi panjangnya. Kalau di majalah panjang kolom paling banyak 5.000 charakter, di koran umumnya sama saja, tetapi bisa sedikit lebih panjang karena bisa bersambung ke halaman lain. Anda tak bisa bertele-tele, tetapi langsung pada persoalan. Memang, kemudian dikenal ada gaya seseorang, yang tak mudah ditiru oleh orang lain. Apalagi apa yang kemudian disebut kolom khusus (misalnya Asal-usul di Kompas).

Salah satu yang penting dalam menulis opini atau kolom adalah fokus yang jelas dan sudut pandang tidak melebar ke mana-mana. Karena itu banyak pemula yang bingung, bagaimana memulainya dan bagaimana memperlakukan bahan-bahan yang ada.

Jangan mudah bingung. Periksa dulu rencana awal, sebenarnya apa sih tema yang mau anda tulis itu? Fokus ceritanya apa, lalu angle (sudut pandangnya) ke mana. Cocokkan dengan bahan/data yang Anda punya atau berita yang sudah terjadi. Apakah sudah terkumpul dan mendukung tulisan itu? Kalau belum, cari yang kurang. Kalau pas dan berlebih, siap-siaplah ditulis.

Pergunakan data atau berita yang sudah terjadi sesuai dengan kebutuhan tulisan itu. Misalnya soal-soal detail. Tak semua detail itu penting. Misalnya menyebutkan jarak sebuah desa di Aceh yang dijadikan wilayah penelitian DOM. ”Desa itu berjarak 15, 74 kilometer dari kota…..” Pembaca malah bisa keliru kalau membacanya cepat-cepat, lima belas kilometer atau seratus limapuluh tujuh kilometer atau tujuh belas kilometer. Sebut saja angka bulat, misalnya, sekitar lima belas kilometer atau lebih sedikit dari lima belas kilometer.

Tetapi untuk hal tertentu, katakanlah kolumnis olahraga, detail itu penting. Misalnya, pertandingan sepakbola. ”Gol terjadi pada menit ke 43”. Ini tak bisa disebut sekitar menit ke 45, karena menit 45 sudah setengah main. Menit ke 43 sangat penting artinya dibandingkan menit ke 30, misalnya. Atau tulisan begini: ”Pelari itu mencapai finish dengan waktu 10.51 detik.” Ini penting sekali bagi pembaca. Mereka akan marah kalau detail itu ternyata salah. Apakah pembaca bingung melihat angka-angka ini? Tidak, karena sebelum mereka membaca tulisan itu, mereka sudah punya persiapan apa tema tulisan itu.

Masalah Bahasa:
Bahasa Indonesia yang kita gunakan untuk menyusun artikel (baik opini maupun kolom) haruslah ”bahasa tulisan”. Yang dimaksudkan di sini adalah bukan bahasa lisan atau bahasa percakapan sehari-hari.

Namun, bahasa itu tetap komunikatif, mampu menghubungkan alam pikiran penulis dan pembaca secara lancar dan hemat kata. Agar dapat menyampaikan gagasan penulis tanpa cacat, kalimat yang disusun harus bebas dari kata-kata yang melelahkan dan kata-kata pemanis basa-basi yang biasa diucapkan orang dalam pidato yang menjemukan. Kata-kata itu bahkan sejauh mungkin harus kita hindari penggunaannya.

Selain menggunakan bahasa tulisan, juga perlu menggunakan bahasa teknis. Dan bahasa teknis menuntut penuturan yang ringkas. Dalam usaha menyusun kalimat ringkas ini, kita harus tetap ingat, jangan sampai mengorbankan kejelasan.Sebuah artikel dikatakan tidak lengkap dan tidak jelas, apabila ia tidak dapat menjawab pertangaan pembaca lebih lanjut, seperti pertanyaan: “Berapa”? (jumlah, ukuran, umur, hasil, suhu dan lain-lain). Artikel yang lengkap tidak akan membiarkan pembaca bertanya-tanya lagi, misalnya di mana letak Ciamis tempat pembunuhan dukun santet itu.Begitu pula deskripsi seseorang, kita jangan terlalu gampang menulis ”orang itu begitu cantik setelah mengenakan pakaian pengantin”. Cantik untuk ukuran orang lain bisa berbeda-beda, maka lebih baik deskripsikan ”kecantikan” itu. Misalnya, setelah mengenakan pakaian pengantin itu, sang gadis kelihatan lebih langsing, matanya lebih bersinar, lehernya lebih jenjang dan sebagainya. Namun, keterperincian itu tadi tetap jangan sampai terjebak pada hal-hal yang tidak perlu.Ketelitian menjadi hal penting

One response

20 06 2009
frans

masalh akode etik membuat majalah atau tabloid.
saya ingin membuat tabloid atau untuk awal2 saya membuat buletin tentang lowongan kerja. apakah saya diperbolehkan mengkopi isi lowongan kerja yang ada di majalah lain atau dari internet yang diterbitkan oleh pihak lain?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: